Kesehatan
Peneliti AI Merancang Buku Resep Dengan Resep Anti-Kanker

Baru-baru ini, sebuah buku resep yang disebut Hyperfoods diterbitkan, yang terdiri dari resep yang dihasilkan melalui bantuan AI dan algoritma pembelajaran mesin. Resep dalam buku tersebut didasarkan pada makanan dengan sifat anti-kanker.
Kecerdasan buatan semakin banyak digunakan dalam pembuatan resep makanan. Misalnya, perusahaan seperti Analytical Flavor Systems telah menggunakan AI untuk menganalisis rasa dan tekstur minuman dan mencoba merancang minuman yang sesuai dengan lokasi tertentu. Sementara itu, Plant Jammer adalah aplikasi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menyarankan resep berdasarkan bahan yang Anda miliki di rumah.
Seperti yang dilaporkan oleh berita Imperial College London, seorang peneliti di Imperial College London dan seorang koki telah bekerja sama untuk menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi makanan dengan sifat anti-kanker dan kemudian mengompilasi makanan tersebut menjadi koleksi resep. Dr. Kirill Veselkov adalah seorang peneliti dari Departemen Bedah dan Kanker Imperial College London. Dr. Veselkov dan tim penelitinya menganalisis data molekuler lebih dari 8000 item makanan. Sejumlah besar molekul yang dianalisis oleh AI adalah flavonoid, yang bertanggung jawab untuk memberikan warna pada sayuran dan buah-buahan. Penelitian ini menggunakan aplikasi komputasi terdistribusi DreamLab, yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam penelitian dan membantu mengidentifikasi sekitar 110 molekul anti-kanker.
Menurut Veselkov, kondisi seperti kanker, gangguan jantung, dan penyakit neurologis terkait dengan pola makan yang buruk. Beberapa studi menunjukkan bahwa pola makan yang buruk dapat menyebabkan sekitar seperlima dari semua kematian di seluruh dunia setiap tahun. Veselkov menyatakan bahwa sekitar setengah dari kasus kanker dapat dicegah dengan pilihan gaya hidup dan pola makan yang lebih baik.
Veselkov bekerja sama dengan koki Jozef Youssef untuk membuat buku resep yang terbuat dari makanan anti-kanker. Youssef percaya bahwa meskipun kita masih jauh dari pola makan yang dipersonalisasi, penelitian yang dilakukan melalui DreamLab masih merupakan langkah penting dalam meningkatkan pemahaman kita tentang kesehatan pola makan dan membantu orang untuk mengubah pola makan mereka menjadi lebih sehat. Youssef menjelaskan bahwa resep dalam buku tersebut dirancang untuk mengajarkan orang cara menggunakan bahan untuk membuat hidangan yang dapat membantu mencegah kanker dan bentuk penyakit lainnya.
Michael Bronstein, seorang peneliti lain dari Imperial College London, bekerja sama dengan Veselkov untuk melakukan penelitian. Bronstein menyatakan bahwa proyek Hyperfoods adalah upaya pertama yang diketahui untuk menggunakan jaringan saraf untuk memeriksa efek molekul makanan pada kesehatan manusia. Seperti yang dikutip oleh berita ICL:
“Dengan memodelkan ‘efek jaringan’ dari interaksi antara molekul makanan dan biomolekul dalam tubuh kita, kita dapat mengidentifikasi makanan mana yang mengandung bahan yang mungkin bekerja dengan cara yang sama seperti obat-obatan dan memiliki potensi untuk mencegah atau mengalahkan penyakit. Ambisi kita adalah untuk memberikan lompatan besar dalam cara makanan kita ‘diresepkan’, dirancang, dan disiapkan – dan ini adalah langkah pertama yang baik.”
Meskipun para peneliti sangat antusias dengan hasil penelitian mereka dan telah merilis buku masak untuk umum, mereka juga memperingatkan bahwa buku tersebut tidak boleh digunakan sebagai pengganti saran medis dari seorang profesional medis. Para peneliti berhati-hati untuk menyatakan bahwa hubungan antara kesehatan dan molekul makanan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Ada beberapa bukti bahwa pola makan dan olahraga yang tepat dapat mencegah beberapa jenis kanker. Namun, ukuran efeknya seringkali modest dan tidak jelas apakah jenis makanan lain dapat menghasilkan efek serupa.
Aplikasi DreamLab akan terus mendukung penelitian di Imperial College London, membantu peneliti di sana menyelidiki kemungkinan kombinasi makanan dan obat untuk mengobati kasus COVID-19, dan temuan dari proyek penelitian akan tersedia untuk komunitas medis untuk menjalani uji klinis jika menjanjikan.












