Pengawasan
Kondisi AI dalam Kepolisian

Teknologi canggih, terutama kecerdasan buatan (AI), digunakan oleh banyak perusahaan di berbagai industri untuk membantu mengembangkan pertumbuhan bisnis, mencapai efisiensi, dan mendukung pekerja manusia.
Organisasi yang menerapkan solusi AI cenderung mendapatkan manfaat dari kinerja yang ditingkatkan karena banyaknya peluang dan aplikasi, dan ini tidak boleh mengejutkan. AI telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, dari asisten digital hingga teknologi yang memungkinkan smartphone kita berfungsi.
Diperkirakan bahwa lembaga kepolisian di seluruh negeri akan terus mengadopsi alat-alat yang ditenagai oleh AI untuk berbagai tujuan. Bagaimana organisasi-organisasi ini menggunakan AI saat ini? Berikut lebih lanjut tentang kondisi saat ini AI dalam kepolisian.
Bagaimana Lembaga Kepolisian Menggunakan AI pada 2022
Reformasi kepolisian telah menjadi topik diskusi utama dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Amerika Serikat. Kematian George Floyd memicu gelombang protes nasional pada Mei 2020. Beberapa advokat menyerukan perubahan besar, sementara yang lain mendukung defunding atau pembubaran kepolisian.
Menurut survei 2021 yang dilakukan oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO), 20 lembaga kepolisian melaporkan memiliki sistem pengenalan wajah. Enam lembaga mengatakan mereka menggunakan teknologi tersebut untuk mengidentifikasi orang-orang yang melanggar hukum selama kerusuhan sipil, protes, dan kerusuhan yang menyusul kematian George Floyd. Selain itu, tiga lembaga melaporkan menggunakan pengenalan wajah untuk menangkap gambar serangan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Banyak orang Amerika memiliki pandangan yang beragam tentang peran AI dalam kepolisian. Pusat Riset Pew menemukan bahwa 45% dari orang dewasa AS merasa sama-sama khawatir dan bersemangat tentang penggunaan AI yang meningkat dalam kepolisian.
Tidak diragukan lagi bahwa teknologi menjadi lebih banyak digunakan di sektor kepolisian. Dalam cara apa lagi lembaga kepolisian menggunakan solusi AI?
Pencegahan dan Pengurangan Kejahatan
Organisasi mengadopsi dan menerapkan sistem AI untuk mencegah dan mengurangi tingkat kejahatan. Algoritma AI dapat menyortir melalui jumlah data yang besar untuk mengidentifikasi pola.
Lembaga kepolisian mengandalkan pola ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang tingkat kejahatan di daerah mereka. Informasi seperti memprediksi di mana masalah mungkin terjadi, warga mana yang lebih cenderung melakukan kejahatan, atau apa kejahatan yang paling umum di daerah tertentu adalah aplikasi AI yang khas dalam kepolisian.
Pengenalan Wajah dan Biometrik
Sistem pengenalan wajah yang ditenagai AI dapat mempercepat penyelidikan, membawa pelaku keadilan, dan berpotensi mencegah dan menghentikan kejahatan.
Biometrik adalah teknologi lain yang digunakan lembaga kepolisian untuk mengotentikasi identitas seseorang dan mengidentifikasi tersangka potensial. Misalnya, lembaga kepolisian mungkin menggunakan biometrik untuk mengidentifikasi seseorang yang meninggalkan sidik jari pada senjata atau bom.
Drone untuk Pengawasan
Lembaga kepolisian Amerika mengadopsi teknologi drone AI untuk mengumpulkan intelijen dan pengawasan di daerah mereka. Drone adalah alternatif yang layak untuk helikopter yang menyediakan pandangan burung-burung tentang situasi yang berpotensi volatil atau kekerasan.
Menurut laporan 2020 dari Pusat Studi Drone di Bard College, setidaknya 1.578 lembaga keamanan publik di AS memiliki teknologi drone. Sekitar 70% di antaranya adalah entitas kepolisian.
Pelaporan Kejahatan dan Aplikasi Darurat
Lembaga kepolisian lebih banyak mengadopsi pelaporan kejahatan berbasis crowdsourcing dan aplikasi darurat untuk memastikan keamanan publik.
Laporan Urban Future With a Purpose 2021 oleh Deloitte menemukan bahwa teknologi pintar, termasuk solusi AI, banyak digunakan. Ini menunjukkan bahwa 39% kota menggunakan aplikasi pelaporan kejahatan dan darurat berbasis crowdsourcing.
Kontroversi Mengenai Kepolisian yang Menggunakan AI
Pengadopsian AI yang meningkat oleh kepolisian telah memicu kontroversi dan debat di antara para ahli, warga, dan lembaga kepolisian itu sendiri. Beberapa orang mengungkapkan kekhawatiran tentang kepolisian yang menggunakan teknologi ini, sementara yang lain merasa bahwa adopsi AI akan memperkuat operasi dan meningkatkan keamanan publik.
Ketidakakuratan dan Bias dalam Sistem AI
Lembaga kepolisian telah lama mengandalkan data kejahatan historis. Informasi masa lalu tentang kejahatan dimasukkan ke dalam sistem AI yang menggunakan algoritma pembelajaran mesin (ML) untuk memprediksi informasi tentang insiden di masa depan. Namun, apa yang terjadi jika data yang digunakan untuk “mengajar” sistem AI ini memiliki bias?
Satu investigasi yang dilakukan oleh Gizmodo dan The Markup menunjukkan bahwa satu perangkat lunak AI, yang disebut PredPol, secara tidak proporsional memprediksi bahwa kejahatan akan terjadi di lingkungan tempat tinggal kelas pekerja, orang kulit hitam, dan orang berwarna. Investigasi Gizmodo dan The Markup adalah upaya independen pertama untuk memeriksa prediksi kejahatan kuantitatif PredPol untuk menentukan apakah perangkat lunak tersebut menghilangkan atau memperkuat bias rasial dalam kepolisian.
Kurangnya Pengawasan Manusia
Pada dasarnya, AI menghilangkan kebutuhan akan pengawasan manusia. Program AI biasanya terampil dalam pengambilan keputusan, tetapi mereka menghadapi pemecahan masalah dengan cara yang berbeda dari manusia. Jika sistem gagal, seperti banyak inovasi teknologi di masa lalu, siapa yang akan bertanggung jawab?
Apakah tanggung jawab akan jatuh pada lembaga kepolisian, petugas yang bertugas, atau produsen teknologi? Seiring dengan adopsi AI yang meningkat di kepolisian, pertanyaan tentang akuntabilitas dan kurangnya pengawasan manusia terus muncul.
Keamanan Privasi
Petugas kepolisian yang menggunakan beberapa solusi AI yang disebutkan di atas sering melakukannya tanpa pengawasan atau pengujian yang tepat. Topik diskusi utama dalam debat ini adalah apakah teknologi AI mengganggu privasi warga. Beberapa laporan menjelaskan bagaimana kepolisian menggunakan perangkat lunak AI untuk memantau platform media sosial warga, menyebabkan lebih banyak kekhawatiran tentang privasi.
Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), berbagai negara bagian di AS, seperti Oregon, New Hampshire, dan California, mengesahkan undang-undang untuk mengatur atau melarang sepenuhnya teknologi pengenalan wajah.
Peran Masa Depan AI dalam Kepolisian
Teknologi baru cenderung meningkatkan cara suatu organisasi beroperasi, dan AI menyajikan tantangan dan manfaat bagi lembaga kepolisian. Meskipun solusi tersebut memiliki niat baik, tidak jelas bagaimana adopsi AI yang luas akan mempengaruhi kepolisian, keamanan publik, ketidaksetaraan rasial, dan hak asasi manusia.
AI sedang menciptakan tempatnya di lembaga kepolisian, tetapi pro dan kontra dari inovasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi pemerintah dan warganya. Akan menarik untuk memantau bagaimana peran AI berubah di masa depan.
AI akan mempengaruhi kepolisian, keamanan publik, ketidaksetaraan rasial, dan hak asasi manusia. AI sedang menciptakan tempatnya di lembaga kepolisian, tetapi pro dan kontra dari inovasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi pemerintah dan warganya. Akan menarik untuk memantau bagaimana peran AI berubah di masa depan.












