Kecerdasan buatan
Manusia Mulai Menulis Seperti AI
Beberapa tahun yang lalu, mudah untuk membedakan tulisan manusia dari bahan yang dihasilkan AI. Komunikasi manusia terdengar tidak teratur tetapi alami, sedangkan AI cenderung terdengar mengkilap, terlalu teliti dan terstruktur dengan sempurna. Hari ini, garis antara keduanya mulai memburam. Ketika AI terus berkembang dan orang-orang semakin banyak menggunakan alat-alat ini untuk bekerja dan tugas sehari-hari, banyak orang mengadopsi pola penulisan yang sama yang dihasilkan oleh sistem AI daripada sistem yang menyesuaikan diri dengan gaya yang lebih manusiawi.
Mengenali Gaya Penulisan AI
Penulisan AI dulunya mudah dikenali. Seringkali terdengar berulang dan terlalu formal dibandingkan dengan bahasa manusia normal. Sekarang pola-pola yang sama mulai muncul lebih banyak dalam penulisan manusia ketika orang menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan chatbot dan aplikasi AI. Bahkan, peneliti di Penn State menemukan bahwa pembaca hanya dapat membedakan teks yang dihasilkan AI sekitar 53% dari waktu, yang menunjukkan betapa kaburnya garis antara penulisan manusia dan AI.
Penyalahgunaan Kata Tertentu
Salah satu cara termudah untuk mengenali karya yang dipengaruhi AI adalah pilihan kata. Model AI cenderung bergantung pada istilah-istilah tertentu yang tampaknya memiliki konotasi emosional, meskipun kata-kata yang lebih sederhana akan terdengar lebih alami. Kata-kata seperti “menggali”, “multifaset”, dan “lanskap” telah dikaitkan erat dengan teks yang dihasilkan AI karena mereka digunakan jauh lebih sering dalam respons chatbot daripada dalam penulisan manusia biasa.
Model seperti GPT-4o menggunakan frasa seperti “persahabatan”, “taplak”, “tangible” dan “rumit” pada lebih dari 100 kali lipat dari tingkat penulis manusia, menurut penelitian. Jadi, ketika lebih banyak orang menggunakan AI untuk brainstorming, editing, dan menulis, beberapa kata-kata tersebut mulai muncul dalam bahasa manusia juga.
Format yang Seimbang dengan Sempurna
Penulisan AI juga cenderung dapat diprediksi dalam struktur. Biasanya, sebuah paragraf dimulai dengan kalimat topik yang jelas, kemudian memberikan penjelasan, contoh, dan kemudian diakhiri dengan kesimpulan yang rapi. Pola itu efektif untuk kejelasan, tetapi juga dapat membuat penulisan terasa mekanis ketika setiap paragraf memiliki irama yang sama.
Seringkali ada lebih banyak variasi dalam penulisan manusia. Beberapa pikiran terdengar blak-blakan. Beberapa di antaranya berkelok-kelok sedikit, memanjangkan kalimat untuk menjelajahi aspek lain sebelum mencapai titik utama. Ketidakteraturan alami itu mulai menghilang demi format yang lebih bersih dan simetris ketika lebih banyak orang menggunakan AI untuk membantu mereka menyusun email, laporan, dan postingan media sosial.
Munculnya Daftar Berurutan
Perbedaan lain yang jelas adalah popularitas daftar berurutan yang meningkat dan struktur yang terbagi secara substansial. Respons chatbot umumnya dibagi menjadi langkah-langkah atau poin-poin karena sistem AI dirancang untuk menyampaikan informasi dalam format yang dapat discan.
Kerangka itu jelas berguna secara online, tetapi juga mengubah cara individu menulis. Lebih banyak entri blog dan pembaruan LinkedIn ditulis dalam format yang sama. Terkadang format lebih penting daripada kepribadian di balik konten.
Tone yang “Membantu” Secara Konstan
Biasanya, teks yang dihasilkan AI tidak terdengar bias atau kacau. Sebaliknya, ia berusaha untuk mencapai nada yang seimbang dan terdengar adil, mengajak, dan dapat diterima oleh semua orang. Hasilnya adalah penulisan yang rapi, tetapi terkadang tanpa suara yang kuat.
Nada itu menjadi semakin umum secara online, dan beberapa penulisan manusia mulai kehilangan kekhasan dan kekurangan yang membuatnya berkesan. Pendapat yang kuat menjadi lebih lembut. Humor menjadi kurang berisiko. Seringkali, ketidaksetujuan diekspresikan dalam gaya yang sangat sopan dan rapi, meniru bagaimana sistem AI diprogram untuk merespons.
Mengapa Manusia Mengadopsi Suara Mesin
Perubahan ke penulisan yang mirip AI tidak terjadi dalam vakum. Orang sekarang sering mengalami bahasa yang dihasilkan AI dalam mesin pencari, chatbot, postingan media sosial, email pemasaran, dan aplikasi tempat kerja. Semakin banyak individu membaca dan merespons jenis komunikasi tersebut, semakin alami dan normal rasanya. Penelitian menunjukkan bahwa 39% dari semua artikel yang diterbitkan pada 2023 berasal dari alat AI. Trend ini menunjukkan bahwa internet telah dipenuhi dengan materi yang dihasilkan mesin.
Bagian dari daya tariknya adalah kecepatan. Penulisan AI dirancang untuk menyajikan informasi dengan cepat dan jelas, membuatnya mudah untuk dicerna. Otak manusia diprogram untuk memilih jalan dengan resistensi terendah, jadi tidak mengherankan bahwa individu mulai meniru terminologi dan tata letak yang sama yang mereka lihat secara online setiap hari. Dalam waktu, komunikasi yang ketat dan bergaya AI dapat menjadi cara default orang menulis secara profesional.
Proses penulisan itu sendiri juga berubah dengan penggunaan AI yang meningkat. Saat ini, banyak orang menggunakan AI untuk brainstorming, mengedit draf dengan prompt, atau menulis ulang bagian menggunakan ide chatbot daripada memulai dari awal. Proses bolak-balik itu membangun koneksi penulisan bersama, menghasilkan produk akhir yang menggabungkan pengaruh manusia dan komputer. Ada titik di mana gaya AI dan suara asli seseorang bisa sulit dibedakan jika iterasi yang cukup dilakukan.
Ada juga sisi sosial dari hal ini. Teks yang dihasilkan AI sering terdengar tenang dan terstruktur, membuat teks manusia terdengar tidak teratur dalam perbandingan. Di tempat kerja, orang mungkin mulai menahan nada mereka atau menghindari keputusan gaya yang lebih berani karena komunikasi yang dipimpin AI telah menjadi sinonim dengan kejelasan dan keahlian.
Apa Kerugian dari Hal Ini?
Dampak AI yang meningkat pada komunikasi manusia tidak selalu buruk. Alat AI dapat membantu individu mengatur pikiran, berkomunikasi lebih cepat, dan mengatasi writer’s block. Namun, ada kekhawatiran yang tumbuh bahwa paparan yang berkepanjangan terhadap bahasa yang dihasilkan AI bisa perlahan-lahan mengikis keunikan yang membuat bahasa manusia pribadi dan berkesan.
Salah satu bahaya terbesar adalah kehilangan keunikan. Penulisan yang baik selalu memiliki kepribadian, pengalaman, dan perspektif, bahkan ketika tidak sempurna. Bahasa yang dihasilkan AI cenderung menghaluskan tepi-tepi kasar demi frasa yang lebih dapat diterima secara umum. Semakin banyak orang menggunakan nada yang halus dan terminologi yang sama, semakin pribadi dan suara merek dapat mulai bergabung. Kesamaan itu mungkin membuat internet terasa berulang dan dapat digantikan seiring waktu.
Ada juga risiko bahwa penulisan yang formulaik dapat menyebabkan pemikiran yang lebih formulaik. Penelitian yang dilakukan oleh MIT Media Lab menemukan bahwa subjek yang menggunakan LLM untuk penulisan esai menunjukkan penurunan koneksi otak dan pengingatan memori yang lebih buruk daripada peserta yang menulis esai tanpa bantuan AI. Jika orang dan sistem AI terus bergerak menuju bentuk komunikasi yang sama, internet berisiko menjadi kurang beragam, kurang beropini, dan akhirnya kurang menyenangkan untuk dibaca.
Bagaimana Menghindari Suara yang Mirip AI
Meskipun Anda menghindari penggunaan AI, hampir mustahil untuk menghindari membaca teks yang dihasilkan AI. Demikian pula, teknologi AI semakin tertanam dalam operasi sehari-hari, dan bagi banyak orang, mereka mungkin benar-benar meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Jika tujuan bukan untuk menghindari AI sepenuhnya, manusia harus menggunakan AI dengan cara yang meningkatkan pemikiran manusia, bukan menggantikan suara pribadi dan perspektif:
- Gunakan AI sebagai mitra brainstorming, bukan penulis: Anda tidak bisa menghindari terdengar seperti AI jika Anda menggunakan AI untuk menulis. AI dapat membantu Anda menghasilkan ide atau mengatur penelitian, tetapi penulisan terbaik datang dari orang-orang yang benar-benar duduk dan melakukan penulisan mereka sendiri, bukan menyalin dan menempelkan potongan besar bahan yang dihasilkan AI ke dalam naskah.
- Praktikkan editing yang lebih sadar: Salah satu hal termudah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terdengar terlalu seperti AI adalah dengan secara sadar mencari kalimat yang terdengar terlalu mengkilap, berulang, atau datar secara emosional. Mendengarkan draf dibacakan dengan suara keras akan membantu penulis menangkap apa pun yang terdengar aneh atau tidak seperti cara mereka biasa berbicara.
- Habiskan lebih banyak waktu membaca penulis manusia: Mesin pencari, jaringan sosial, dan bahkan buletin sering dipenuhi dengan konten yang dihasilkan AI sekarang, membuatnya lebih mudah bagi gaya itu untuk menjadi arus utama. Membaca buku, esai, dan jurnalisme panjang dari penulis manusia yang kuat dapat membantu Anda mempertahankan rasa irama dan orisinalitas.
- Perhatikan kebiasaan menulis pribadi: Setiap penulis memiliki irama kalimat dan kata-kata yang mereka sukai, yang memberikan penulisan mereka kualitas yang khas. Sebagai gantinya, penulis dapat belajar untuk melihat “kekurangan” tersebut sebagai bagian dari suara mereka, bukan sesuatu yang harus dioptimalkan setiap saat.
Menjaga Suara Manusia Tetap Utuh
Selama bertahun-tahun, diskusi seputar AI telah berfokus pada membuat mesin berbicara lebih seperti manusia. Sekarang, kebalikannya mungkin terjadi dengan kecepatan yang sama. Ketika komunikasi yang dihasilkan AI menjadi lebih meluas secara online, tantangan bukan lagi tentang mengenali penulisan yang dihasilkan AI, tetapi lebih tentang memastikan suara manusia tidak hilang di tengah-tengahnya.












