Model dan platform AI
Seberapa Banyak Orang Mempercayai AI di 2024?
Seiring perkembangan kecerdasan buatan yang memasuki berbagai aspek kehidupan, memahami kepercayaan masyarakat terhadap teknologi ini menjadi semakin penting. Meskipun memiliki potensi untuk merevolusi industri dan memperbaiki kehidupan sehari-hari, AI datang dengan campuran fascinasi dan skeptisisme. Mengetahui bagaimana masyarakat umum merasa tentang hal ini dan bagaimana persepsi mereka mungkin berubah dengan penggunaan dapat memungkinkan orang lain untuk memahami keadaan kepercayaan AI dan implikasinya di masa depan.
Seberapa Sadar Orang tentang AI?
Kesadaran dan pemahaman masyarakat umum tentang AI mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap teknologi ini. Survei terbaru menunjukkan 90% dari orang Amerika mengetahui sedikit tentang AI dan memiliki beberapa pengetahuan tentang apa yang dilakukannya. Namun, beberapa memiliki pemahaman yang lebih dalam dan sangat familiar dengan AI dan berbagai aplikasinya.
Kesadaran parsial ini menyebabkan kesadaran dan kebingungan. Sementara 30% dari orang Amerika dapat mengidentifikasi aplikasi AI yang paling umum, sebagian besar masih memiliki kesalahpahaman. Salah satu yang paling umum adalah kesalahan dan bias.
Banyak orang tidak sepenuhnya menyadari bahwa ketika alat AI membuat kesalahan, kesalahan itu sering kali terletak pada pengembang yang menciptakan sistem atau data yang digunakan untuk melatih model, bukan pada AI itu sendiri. Kesalahpahaman ini lebih lanjut memperkuat masalah kepercayaan yang mengelilingi AI.
Misalnya, Google Gemini menghadapi kritik karena menggambarkan tokoh sejarah dengan tidak akurat. Ini adalah kegagalan data pelatihan, menciptakan mesin yang tidak dapat diandalkan dan bias. Meskipun tingkat kesadaran umum yang tinggi, celah kepercayaan masih tinggi karena kesalahpahaman dan visibilitas kegagalan AI.
Persepsi Umum tentang AI
Persepsi masyarakat tentang AI bervariasi secara luas. Secara global, 35% menolak penggunaan yang meningkat. Di AS, tingkat penolakan lebih kuat, dengan 50% dari warga negara mengekspresikan oposisi terhadap peran yang berkembang dalam masyarakat.
Kepercayaan terhadap perusahaan AI juga menurun secara signifikan selama beberapa tahun. Pada 2019, setengah dari warga AS memiliki sikap netral terhadap merek tersebut. Namun, survei terbaru menunjukkan kepercayaan ini telah menurun menjadi hanya 35%. Kebanyakan ketidaknyamanan mereka tentang perusahaan AI berasal dari pertumbuhan cepat produk mereka.
Ketakutan masyarakat tumbuh terhadap inovasi ini karena seberapa cerdas mereka telah menjadi dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, dengan alat ini berkembang secara besar, masyarakat percaya bahwa penerapan yang cepat meninggalkan ruang untuk pengelolaan yang memadai.
Faktanya, 43% dari populasi global setuju bahwa perusahaan AI mengelola dengan buruk. Namun, jika pemerintah mengatur dengan ketat, lebih banyak orang akan mau menerima inovasi ini. Mereka juga akan merasa lebih positif tentang AI jika mereka dapat melihat manfaatnya bagi masyarakat dan memahami lebih baik. Memberikan pemahaman yang lebih jelas akan membantu persepsi masyarakat tentang operasinya.
Selain itu, pengujian yang menyeluruh adalah faktor kritis dalam memenangkan kepercayaan masyarakat. Warga negara ingin melihat perusahaan menguji aplikasi AI secara ketat untuk memastikan keandalan dan keamanan. Selain itu, ada permintaan yang kuat untuk pengawasan pemerintah untuk memastikan bahwa teknologi AI memenuhi standar keamanan dan etika. Langkah-langkah seperti ini dapat sangat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap AI dan menciptakan penerimaan umum terhadap penggunaannya.
Kepercayaan AI di Berbagai Sektor
Menurut survei Pew Research, kepercayaan terhadap AI bervariasi secara luas di berbagai sektor, dengan dampak yang dirasakan dalam setiap bidang.
1. Tempat Kerja
Peran AI dalam proses perekrutan adalah kekhawatiran besar bagi banyak orang di tempat kerja. Sekitar 70% dari orang Amerika menentang perusahaan menggunakan AI untuk membuat keputusan perekrutan akhir. Ini biasanya karena ketakutan akan bias dan kurangnya penilaian manusia. Selain itu, 41% dari orang dewasa AS menentang penggunaan AI untuk meninjau aplikasi karena kekhawatiran tentang kesetaraan, transparansi, dan potensi kesalahan algoritmik.
2. Pelayanan Kesehatan
Untuk pelayanan kesehatan, kepercayaan masyarakat terhadap AI memiliki pembagian yang cukup jelas. Setidaknya 60% dari populasi AS akan merasa tidak nyaman jika penyedia layanan kesehatan mereka mengandalkan AI untuk perawatan medis. Ketidaknyamanan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kekhawatiran tentang kemampuan teknologi untuk membuat keputusan medis dan potensi kesalahan.
Namun, 38% dari populasi setuju bahwa AI dapat meningkatkan hasil kesehatan pasien. Kelompok ini mengakui potensi manfaat AI dalam meningkatkan akurasi diagnosa dan rencana perawatan yang dipersonalisasi. Mereka juga menyadari bahwa AI dapat meningkatkan efisiensi secara keseluruhan dalam penyampaian pelayanan kesehatan.
3. Pemerintah
Enam puluh tujuh persen dari orang Amerika percaya bahwa pemerintah tidak akan melakukan cukup untuk mengatur penggunaan AI. Kekurangan kepercayaan ini dalam pengawasan adalah hambatan kritis terhadap kepercayaan masyarakat, karena banyak orang khawatir bahwa pengawasan yang tidak memadai dapat menyebabkan penyalahgunaan, pelanggaran privasi, dan masalah etika yang tidak teratasi.
4. Penegakan Hukum
Sentimen masyarakat menunjukkan kekhawatiran yang tumbuh tentang adopsi teknologi ini. Menurut penelitian Ipsos, sekitar 67% dari warga AS khawatir tentang polisi dan penegakan hukum menyalahgunakan AI. Kekhawatiran ini kemungkinan besar disebabkan oleh potensi penggunaan untuk invasi privasi dan ketakutan akan implikasi keseluruhan terhadap kebebasan sipil.
5. Ritel
Di sektor ritel, penyebutan AI dalam produk memiliki dampak yang terlihat pada kepercayaan konsumen. Ketika sorotan AI ada dalam deskripsi produk, kepercayaan emosional cenderung menurun. Sehingga, konsumen kurang mungkin membuat keputusan pembelian.
Bagaimana Masyarakat Memandang AI Setelah Menggunakannya
Penggunaan AI telah menjadi kenyataan bagi banyak orang Amerika, dengan 27% dari orang dewasa AS menggunakan AI beberapa kali sehari. Beberapa bentuk penggunaan yang paling umum termasuk asisten virtual dan generasi gambar, tetapi generasi teks dan chatbot memuncaki daftar. Dalam survei yang dilakukan oleh YouGov, 23% menyatakan mereka menggunakan AI generatif seperti ChatGPT, dan 22% menyebutkan menggunakan chatbot secara teratur.
Meskipun kekhawatiran yang tumbuh tentang implikasi AI di masa depan, survei yang sama menemukan 31% dari orang Amerika percaya bahwa AI membuat hidup mereka lebih mudah. Lagi pula, 46% dari orang dewasa di bawah 45 tahun mengatakan bahwa AI meningkatkan kualitas hidup mereka. Namun, penggunaan yang meningkat dari teknologi ini meningkatkan kekhawatiran.
Dalam survei Ipsos, satu dari tiga orang menggunakan beberapa varian AI secara teratur, dengan 57% mengharapkan AI melakukan lebih banyak di masa depan. Meskipun menemukan alat ini mudah digunakan, 58% dari responden merasa lebih khawatir daripada bersemangat setelah menggunakan AI lebih sering.
Menghasilkan kepercayaan mereka membutuhkan waktu, sebagian besar melibatkan pendekatan pendidikan dan transparan dari perusahaan yang menyediakan alat AI. Lebih banyak orang akan mau mempercayai mereka dari waktu ke waktu ketika integrasi yang bertanggung jawab terjadi.
Dari Mana Kekhawatiran terhadap AI Berasal?
Sumber besar kekhawatiran terhadap AI berasal dari ketakutan bahwa AI bisa menjadi lebih cerdas daripada manusia. Banyak orang Amerika khawatir bahwa kemajuan AI bisa menyebabkan akhir dari umat manusia, didorong oleh gagasan bahwa AI supercerdas mungkin bertindak dengan cara yang merugikan keberadaan manusia. Kekhawatiran eksistensial ini adalah penggerak kuat skeptisisme dan resistensi terhadap teknologi ini.
Faktor lain yang besar yang menyumbang kekhawatiran adalah potensi AI untuk membuat keputusan yang tidak etis atau bias. Masyarakat khawatir sistem ini memicu bias sosial, menyebabkan hasil yang tidak adil, terutama dalam politik.
Orang juga khawatir AI akan mengurangi elemen manusia dalam berbagai pengaturan, seperti tempat kerja dan layanan pelanggan. Sisi impersonal dari interaksi berbasis mesin dapat menakutkan. Oleh karena itu, ini menyebabkan preferensi yang lebih besar untuk keterlibatan manusia, di mana empati dan pemahaman yang mendalam sangat penting.
Sementara itu, yang lain memiliki kekhawatiran yang lebih besar terkait AI dan pengumpulan data. Hampir 60% dari konsumen di seluruh dunia berpikir bahwa AI dalam pengolahan data adalah ancaman besar terhadap privasi mereka. Potensi penyalahgunaan informasi pribadi memicu alarm tentang pengawasan, pelanggaran data, dan erosi privasi.
Terlepas dari kekhawatiran ini, ada jalur untuk membangun kepercayaan terhadap AI. Orang dapat menjadi lebih terbuka terhadap AI ketika mereka melihat komitmen untuk melindungi privasi. Selain itu, melakukan studi lebih lanjut tentang dampak sosial AI dan berkomunikasi secara terbuka tentang temuan ini dapat menjembatani kesenjangan kepercayaan. Ketika masyarakat melihat upaya yang tulus untuk mengatasi kekhawatiran ini, mereka lebih mau mempercayai bahwa AI dapat melakukan kebaikan di dunia.
Membangun Masa Depan AI yang Dapat Dipercaya
Menghasilkan kepercayaan terhadap AI adalah kompleks dan multifaset. Sementara banyak orang mengakui manfaat potensialnya, kekhawatiran tentang masalah etika, hilangnya interaksi manusia, dan ancaman privasi tetap prevalen. Mengatasi kekhawatiran ini melalui pengujian yang ketat dan regulasi yang transparan sangat penting. Dengan memprioritaskan akuntabilitas dan pendidikan publik, merek teknologi dapat membangun kepercayaan dan menciptakan masa depan di mana masyarakat memandang AI sebagai alat yang bermanfaat.












