Kesehatan
Peneliti Melakukan Tinjauan tentang Kemampuan AI untuk Mengobati Penyakit Otak

Peneliti Italia telah menyelesaikan tinjauan literatur sistematis yang diterbitkan bulan ini di APL Bioengineering, oleh AIP Publishing. Tujuan tinjauan ini adalah untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang kecerdasan buatan (AI) dan kemampuannya untuk digunakan sebagai pengobatan untuk penyakit otak. Setelah mengumpulkan 2.696 hasil yang berbeda, peneliti memfokuskan pada 154 makalah yang paling banyak dikutip.
AI dapat memproses sejumlah besar data, dan dapat melakukannya dengan sangat cepat. Ini, bersama dengan pendekatan yang berbeda seperti pembelajaran mesin, penglihatan komputer, dan jaringan saraf, membantu menciptakan lingkungan di mana teknologi AI menjadi alat yang efektif melawan banyak masalah kesehatan terbesar di dunia.
Namun, ada banyak tantangan yang mengelilingi teknologi dan penggunaannya dalam bidang ini, terutama dalam diagnosis, pengobatan bedah, dan pemantauan penyakit otak. Studi baru ini dapat membantu mengembangkan metode baru, yang terus mendorong bidang ini maju.
Tinjauan
Salah satu poin utama dari tinjauan ini adalah penggunaan jaringan adversarial generatif untuk mengembangkan otak yang menua secara sintetis. Ini memungkinkan para ahli untuk mempelajari perkembangan penyakit dari waktu ke waktu.
Alice Segato adalah penulis makalah yang menjelaskan tinjauan tersebut.
“Penggunaan teknik buatan secara bertahap membawa solusi teoritis yang efisien untuk sejumlah besar masalah klinis nyata yang terkait dengan otak,” kata Segato. “Terutama dalam beberapa tahun terakhir, berkat akumulasi data yang relevan dan pengembangan algoritma yang semakin efektif, telah memungkinkan untuk meningkatkan pemahaman tentang mekanisme otak yang kompleks.”
Studi ini berfokus pada beberapa area utama perawatan otak, seperti memeriksa metode AI yang bertanggung jawab untuk memproses informasi tentang struktur dan karakteristik koneksi otak, serta penilaian kandidat bedah. Yang lainnya termasuk data gambar untuk mempelajari penyakit otak, mengidentifikasi masalah dan area masalah, memprediksi penyakit dan hasil, dan bantuan intraoperatif.
Beberapa data gambar yang digunakan untuk mempelajari penyakit otak termasuk data 3D seperti pemindaian resonansi magnetik, pemindaian tensor difusi, tomografi emisi positron, dan pemindaian tomografi terkomputasi. Teknik penglihatan komputer AI dapat digunakan untuk menganalisis semua jenis data gambar ini.
“Algoritma yang Dapat Dijelaskan”
Dalam studi yang diterbitkan, peneliti mendukung “algoritma yang dapat dijelaskan.” Ini berarti jalur solusi yang jelas dan terperinci, bukan hanya “ kotak hitam” yang sering digunakan.
“Jika manusia ingin menerima resep atau diagnosis algoritmik, mereka perlu mempercayainya,” kata Segato. “Upaya peneliti sedang menuju penciptaan algoritma yang semakin canggih dan dapat diinterpretasikan, yang dapat mendukung penggunaan teknologi ‘pintar’ yang lebih intensif dalam konteks klinis praktis.”
Dukungan ini juga datang pada saat ilmuwan internasional memanggil untuk lebih transparan dalam penelitian AI. Kelompok ilmuwan ini termasuk anggota dari lembaga terkemuka seperti Princess Margaret Cancer Centre, University of Toronto, Stanford University, Johns Hopkins, Harvard School of Public Health, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Menurut ilmuwan, temuan dan metode yang lebih transparan dapat membantu memimpin pengobatan kanker yang lebih baik berdasarkan penelitian.












