Etika
Dunia yang Kabur dari AI dan Hak Cipta

Harold Cohen mengembangkan “artis” kecerdasan buatan pertama pada 1970, ketika AI tumbuh dengan pesat. Ia adalah seorang pelukis terkenal di Inggris dan menjadi terpesona dengan teknologi komputer dan apa yang bisa dilakukan untuk dunia seni. Ia bepergian ke University of California untuk mempelajari lebih lanjut tentang pemrograman, akhirnya menjadi sangat berpengetahuan sehingga ia dipekerjakan sebagai profesor.
Pada saat itu ia mengembangkan AARON, sebuah program komputer yang dapat menghasilkan karya seni. Meskipun pemrograman itu sederhana — itu hanya bisa mengikuti aturan yang telah ditetapkan Cohen — hasilnya mengguncang dunia teknik komputer dan seni.
Pemrogram mengambil konsep awal AARON dan memperluasnya ketika teknologi komputer maju. Perusahaan seperti OpenAI telah menciptakan perangkat lunak penghasil gambar dan membuatnya open source. Siapa pun dapat meminta program untuk membuat gambar dan program akan membuatnya.
Hari ini, program penghasil gambar telah mengambil alih internet. Namun, ada konflik yang sedang membesar antara manusia dan mesin — tidak harus fisik, tetapi lebih pada ranah hukum.
Komplikasi Hukum Hak Cipta
Salah satu kontroversi seputar seni AI adalah masalah hak cipta. Kongres mengesahkan Digital Millennium Copyright Act pada 1988, yang menetapkan sistem pemberitahuan dan penghapusan untuk pemilik hak cipta. Ini memberi mereka hak untuk memberitahu dan menghapus setiap representasi karya mereka yang tidak memiliki izin eksplisit.
Namun, hukum hak cipta sering kali bertentangan dengan peraturan lain, seperti doktrin Fair Use. Fair Use didefinisikan sebagai doktrin yang mempromosikan kebebasan ekspresi dengan memungkinkan penggunaan tidak berlisensi dari bahan hak cipta dalam beberapa kasus. Ini termasuk kritik, komentar, pelaporan berita, penelitian, dan kegiatan akademis.
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa seniman AI terkena pelanggaran hak cipta ketika menciptakan karya asli. Kebenarannya adalah karya seni ini mungkin tidak sepenuhnya asli.
Bagaimana Perangkat Lunak Penghasil Gambar Bekerja
Inti masalah terletak pada bagaimana AI belajar. Mesin memerlukan pola yang dibuat dari data yang sudah ada untuk mereplikasinya. Biasanya, ini berarti programmer manusia memberikan informasi untuk AI bekerja. Namun, perangkat lunak penghasil gambar menggunakan internet untuk menemukan ini.
Pertimbangkan bagaimana DALL-E menghasilkan gambar. Program akan meminta Anda untuk menjelaskan gambar yang ingin Anda buat dalam teks. Misalnya, katakanlah Anda ingin gambar Han Solo dan Jean-Luc Picard bertarung di bulan. Itulah parameter yang program harus kerjakan. Namun, AI harus terlebih dahulu mempelajari subjek, tidak seperti manusia, yang tahu apa itu Han Solo, Jean-Luc Picard, dan bulan.
Program mencari melalui basis data jutaan gambar yang diambil dari internet dan mencoba mencocokkan frasa yang digunakan dalam parameter. Setelah menemukan yang paling relevan di basis data, program menguraikannya menjadi data dan merekonstruksinya menjadi gambar yang dipercayai Anda minta.
Hukum Hak Cipta vs. Seniman AI
Jika semua itu terdengar sangat kompleks, ingatlah bahwa itu hanya ringkasan dasar. Namun, poin utama adalah bahwa gambar yang digunakan AI untuk belajar dibuat oleh seniman yang karyanya dapat ditemukan di internet.
Ini adalah area yang diklaim oleh seniman sebagai sengketa hak cipta. Sebuah kelompok seniman meluncurkan gugatan terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas pembuatan DALL-E dan perangkat lunak penghasil gambar populer lainnya. Mereka mengklaim bahwa perusahaan-perusahaan ini memperoleh keuntungan dari karya jutaan seniman, yang diperoleh dan digunakan untuk melatih program AI mereka tanpa izin.
Mereka membangun kasus mereka berdasarkan kekhawatiran yang tumbuh bahwa orang dapat menggunakan teknologi AI untuk sepenuhnya meniru gaya dan karya seniman. Misalnya, seorang mahasiswa seni yang mengalami kesulitan mengelola komitmen dan menjuggling pekerjaan sekolah mungkin berpaling ke metode lain untuk menyelesaikan proyek tepat waktu — dan program AI ada di sana, siap untuk memungkinkan siswa menciptakan dan melewati karya yang dihasilkan komputer sebagai karya mereka sendiri.
Insiden lain beberapa bulan sebelum gugatan membawa masalah ini ke sorotan. Hollie Mengert, seorang seniman konsep yang bekerja untuk Disney, terkejut menemukan bahwa portofolio online-nya telah digunakan sebagai alat pembelajaran untuk generator gambar AI Stable Diffusion.
Mengert memiliki gaya ilustrasi unik yang ia kembangkan selama bertahun-tahun di sekolah seni dan bekerja dengan Disney. Sekarang, siapa pun yang bukan seniman dapat menciptakan gambar apa pun dengan gaya Mengert melalui Stable Diffusion. Ia merasa sebagai jika privasinya telah dilanggar. Karyanya digunakan tanpa izin dan menciptakan karya seni baru yang orang dapat untungkan.
Konflik Terus Berlanjut
Dalam pertahanan atas tindakannya, pengguna yang mengunggah portofolio Mengert ke Stable Diffusion menyatakan bahwa penggunaan karyanya jatuh di bawah Fair Use. Apa batas Fair Use mengenai seni yang dipublikasikan di internet? Apakah perusahaan yang menjalankan DALL-E dan Stable Diffusion memerlukan izin dari seniman asli atau apakah ini jatuh di bawah penelitian komputer sederhana?
Pertanyaan ini membuat ahli hukum terbagi dua. Beberapa percaya bahwa ada preseden untuk kasus pelanggaran hak cipta dan peraturan pada teknologi baru ini diperlukan. Yang lain percaya bahwa apa yang dilakukan teknologi ini adalah sepenuhnya legal.
Satu-satunya kepastian adalah bahwa kecerdasan buatan akan terus berkembang dan menjadi lebih luas.










